Design Thinking

Sehubungan dengan absennya saya minggu lalu jadi saya menulis ini dengan referensi dari blog teman-teman saya. Minggu lalu dalam kuliah ‘Creativity and Innovation’ kami diberikan contoh orang kreatif bernama Adi Panuntun, CEO PT. Sembilan Matahari yang membuat Kota Tua video mapping dan produser film Cin(T)a. Dalam sesi guest lecture tersebut, pembahasannya adalah Design Thinking.

What is Design Thinking?

Design Thinking adalah pemikiran kreatif dari setiap orang yang dimanfaatkan untuk membuat sesuatu. Sehubungan dengan kuliah sebelumnya, hal ini berarti mirip dengan Innovation, membuat sesuatu dengan pemikiran kreatif kita menjadi sebuah product design.

Contoh design thinking yang diterangkan dalam kuliah adalah produk teh, TehBotol Sosro dan air minum kemasan, AQUA. Yang menarik dari kedua produk tersebut adalah, ketika kita menyebutkan brand tersebut besar kemungkinan langsung terbayang bentuknya dalam otak kita. Nama dari kedua produk itu memiliki korelasi yang erat dengan produk aslinya, sehingga mudah untuk membuatnya menjadi top of mind dari konsumer.

Ide keduanya pun kreatif, sederhana tapi potensial. Dalam contoh ini AQUA memiliki sesuatu yang disebut sebagai brand awareness, atau kesadaran akan produk yang lebih hebat dibandingkan dengan TehBotol.

Banyak orang yang membeli air minum kemasan tanpa sadar akan bilang ‘AQUA’. Sama halnya dengan ‘Odol’, kenapa pasta gigi di Indonesia sering disebut ‘Odol’? Karena itu adalah salah satu brand pasta gigi pertama di Indonesia, sayangnya tidak bertahan lama seperti AQUA atau TehBotol.

Design Thinking Process

Observe -> Synthesize -> Brainstorm -> Vote -> Prototype -> Story Tell

Observe

Sesuai dengan namanya memperhatikan hal-hal di sekitar kita. Kita melihat lebih dalam kebutuhan customer dari barang yang nantinya kita buat.

Synthesize

Unstated needs, di sini kita melihat hal itu. Kebutuhan semua orang namun tidak banyak disadari, mungkin justru ada solusi simple dari hal tersebut.

Brainstorm

Sekarang untuk menemukan solusinya kita mengeluarkan semua hal yang terpikir, walaupun mungkin tidak memiliki korelasi yang baik dengan goal. Hal itu dapat disortir di akhir sesi Brainstorm. Process ini lebih baik dilakukan dalam tim, karena lebih banyak kepala (ide) lebih baik.

Vote

Memilih hasil akhir dari Brainstorm, masing-masing pemilik ide tentu memiliki pembelaan idenya. Tapi hal yang penting dari sini adalah produk yang Desirable, Feasible, Viable. Jika 3 faktor tersebut terpenuhi, maka produk dapat dikatakan memiliki potensi yang baik.

Prototype

Ide-ide akhir tadi sekarang diwujudkan dalam bentuk alat, hal ini pernah kita saksikan dalam video perusahaan IDEO yang membuat kereta belanja.

Story Tell

Membuat cerita di balik produk kita, korelasi antara nama dan produk merupakan hal yang menarik untuk diceritakan. Terutama pada retail business, filosofi produk kita merupakan hal penting yang meningkatkan curiosity dari customer. Sehingga pada hasil akhirnya, hal ini membantu daya jual produk kita sekaligus menjadi identitas produk kita dalam market.

Korelasi dan

Dua hal yang terlihat jauh berhubungan, tapi tidak begitu jika apel adalah perusahaan Apple, maka spidol merupakan salah satu inovasinya. Seringkali saya merasa susah untuk berekspresi menggambar dengan jari pada device iPod, iPhone atau iPad. Spidol menjadi ide awal untuk sebuah inovasi sederhana namun berguna.

iMark mungkin bisa menjadi solusi orang-orang yang memiliki keperluan presentasi. Menggambar pada iPad dengan menggunakan sebuah pointer tipis yang lebih precise daripada hanya menggunakan jari. Selain itu photo editing pada device-device touch lainnya milik Apple tentu lebih mudah.

Singkatnya, iMark ini memiliki bentuk small stick yang biasa dipakai pada handphone touch beberapa tahun yang lalu. Penambahan fitur yang sederhana namun bisa berguna bagi beberapa orang design atau business.

Market Retail Masa Depan

Ada 2 sudut pandang dalam cara business menembus market:

Traditional

Cara tradisional bisnis adalah melalui research data kuantitatif dalam menganalisa market. Hal ini yang baru kemudian dikombinasi dengan inovasi. Menurut saya, sebuah proses bisnis yang lazim dan akan selalu begitu, tipe yang dapat dikatakan Calculative atau penuh perhitungan.

Innovation & Design

Dibanding dengan research, tipe ini lebih terfokus pada experience dari produk. Pandangan ini lebih subjektif namun karena terkonsentrasi dengan needs yang ada di market, maka kemungkinan inovasi yang dihasil bisa lebih cemerlang. Menurut saya, sebuah proses bisnis yang tidak lazim namun memiliki kemungkinan membuat market (lebih baik dari menembus market), karena tidak terpaku pada data, tipe yang dapat dikatakan Abstract atau tidak berpatokan, butuh usaha marketing yang lebih dibandingkan tradisional.

Dalam 10 tahun ke depan, keduanya dapat bekerja dengan baik. Innovation & Design akan terus membuat market, sedangkan Traditional akan menjadi supplier bentuk inovasinya.

 

– haput

Advertisements

About haput070

Just a student of SBM-ITB View all posts by haput070

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: