Monthly Archives: April 2011

Business Model : IFC

Dalam kuliah Creativity and Innovation minggu ini, hal yang dipelajari adalah membuat simple business model dengan tema berupa stasiun televisi, provider handphone atau social network. Tema yang dipilih adalah stasiun televisi bernama IFC, atau Indonesian Food Channel. Sama seperti channel AFC yang kadang kita lihat ketika browsing channel televisi di tv kabel, namun semuanya bertema Indonesia dan merupakan channel lokal.

IFC adalah sebuah channel TV berisikan khusus hal-hal kuliner Indonesia, sebuah konsep yang baru di dunia entertainment Indonesia. Kuliner atau bidang makanan adalah sesuatu yang menjadi kebutuhan semua orang, eksplorasi akan variasi baru di dunia kuliner menjadi penawaran utama atau Value Proposition dari channel ini. Terutama dengan khas Indonesianya, membuat kita lebih bangga dan berniat melestarikan keberagaman kuliner bangsa kita.

Customer Segment dari IFC adalah:

  • Pria/Wanita usia di atas balita
  • Culinary product related advertisement
  • Restaurant
  • Chef
  • Culinary Academy
  • Event Organizer

Channel ini mencapai target di atas dengan melalui Distribution Channel :

  • TV Cable
  • Live Streaming from website
  • Magazine
  • Newspaper
  • Cookbook

Selain itu kontak dengan penonton juga diperlukan untuk menjaga target market yang telah tertampung, Customer Relationship:

  • Hotline
  • Discount voucher untuk restoran
  • Quiz

Supaya value dari IFC bisa mencapai customer dengan analisis segmen ini maka IFC perlu membangun Core Capabilities, berupa tayangan-tayangan seperti:

  • Restaurant Review, jalan-jalan dan mereview restoran serta makanan khas daerah
  • How To Cook, program utama berisikan cara-cara memasak
  • Cooking Competition, program seperti MasterChef
  • Talk Show dengan pebisnis restoran, chef, dan orang-orang dunia kuliner
  • Tips and Trick, acara singkat berupa saran dalam teknik memasak atau cara memasak yang mudah

Diharapkan dengan program-program tersebut, orang Indonesia semakin mengapresiasi skill memasak dan variasi dunia kuliner yang dimiliki Indonesia. Kita termasuk negara yang memiliki kekayaan dunia kuliner dan hal ini patut dibanggakan.

Untuk memperlancar proses penyampaian value tersebut, IFC juga harus memiliki partners:

  • Restaurant
  • Chef
  • Culinary Academy
  • Gourmet-related company, seperti equipment dapur dan produk dapur
  • Travel Agency

Supply Chain atau Activity Configuration, yang dibutuhkan dalam menjalankan bisnis ini adalah:

  • Producer
  • Script Writer
  • Broadcaster
  • Event Management
  • Advertising Management

Setelah jalan bisnis yang jelas tadi, kita perlu mengkaji sektor finansialnya, ada hal yang menjadi Cost dan Revenue.

Cost:

  • Production
  • Crew Salary
  • Publishing

Revenue:

  • Advertising
  • Website Live Streaming Subscription
  • TV Cable payment
  • Talkshow or Food Festival ticket payment
  • Cookbook sales

Jadi bisa dilihat, sebenarnya bisnis ini memiliki setup cost yang bisa dengan mudah ditutupi revenuenya yang memiliki banyak sumber. Selain itu IFC juga berpotensi menjadi komunitas besar kuliner Indonesia yang membuka kemungkinan ekspansi bisnis seperti restoran milik IFC.

Advertisements

NTT DoCoMo Vision, Reason and My Video Opinion

Video tersebut adalah sebuah visi dari perusahaan teknologi komunikasi NTT DoCoMo dari Jepang. Sebuah gambaran teknologi yang luar biasa, menyatukan orang-orang di seluruh dunia dan membuka kemungkinan untuk berkomunikasi dengan siapa saja dari mana saja dan di mana pun. Teknologi pasti selalu berkembang guna untuk membantu memudahkan kebutuhan manusia, DoCoMo adalah salah satu perusahaan yang memiliki mimpi jangka panjang untuk hal ini.

 

Alasan dibuatnya video tersebut kemungkinan adalah sebuah presentasi kepada siapapun yang menyaksikan video tersebut, bahwa hal itu bisa diwujudkan. Terutama dari segi bisnis, adalah untuk menarik para investor dalam pengembangan teknologi, bukan hal yang murah untuk melakukan sekedar riset marketing, apalagi riset teknologi yang belum ada seperti ini. Yang menarik adalah video ini dirilis untuk umum, berarti DoCoMo tidak takut konsep atau ide bisnisnya dicuri oleh orang lain, karena mereka yakin teknologi ini belum terjamah.

 

Opini saya, video ini menjelaskan tentang mimpi dari perusahaan NTT DoCoMo. Mereka berani memiliki visi teknologi bagaikan dalam komik Doraemon, bahkan ditargetkan tercapai di tahun 2020, tepatnya sembilan tahun dari sekarang. Tidak ada yang salah dari bermimpi dan bahkan berbagi tentang mimpi tersebut, sesuatu yang disebut sebagai Open Thinking. Lewat proses open thinking, kita dapat mendengar kritik dan pendapat konstruktif yang terus membangun mimpi kita. Dalam proses pencapaian mimpi, kita memiliki step-step yang mendekatkan kita kepada mimpi itu. Jika mimpi atau visi NTT DoCoMo tidak sejauh itu, maka teknologi komunikasi yang berkembang tidak akan pesat.

 

Opini saya yang lain mengenai video tersebut adalah jika hal tersebut terwujud di tahun 2020 maka saya menjadi takut pada perkembangan dunia yang terlalu pesat. Jika anda pernah menonton film animasi Wall-E yang dibuat oleh Disney Pixar, maka anda bisa melihat kritik tentang perkembangan teknologi kita dan kemungkinan dampak negatifnya.